17 Bukan Sekedar Angka Bagi Bung Karno

 


Jika kita mendengar angka 17 pada umur seseorang pikiran kita seolah memastikan jika angka itu sebagai pertanda kedewasaan bagi pemilik usia tersebut. Dalam konstruksi sosial modern, angka 17 kerap diidentikkan sebagai liminal space—sebuah ambang batas antara masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Pada usia ini, seseorang dianggap mulai memiliki agency (hak milik atas keputusan diri), kebebasan bertindak, sekaligus beban tanggung jawab hukum. Tapi apakah alasan yang sama bagi bung Karno untuk memilih angka tersebut untuk kemerdekaan Indonesia. 

Peristiwa ini dimula pada 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, ketegangan pemikiran antara golongan muda dengan golongan tua mengenai kekosongan kekuasaan setelah Jepang dibombardir oleh Amerika Serikat. Para pemuda dari Golongan Muda—seperti Sukarni, Chaerul Saleh, dan Wikana—nekat membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Karawang dengan satu tujuan: mendesak agar proklamasi kemerdekaan dilakukan hari itu juga.

Namun dibalik ketegangan yang terjadi akibat pengamanan yang dilakukan pemuda Soekarno tetap bergeming, ia menolak memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal tersebut. Saat itu pemuda tidak berani menanyakan mengenai hal itu, selain ada ketegangan yang terjadi pemuda juga tahu bagaimana tabiat Soekarno yang tegas serta konsisten.

Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan secara akal mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Tapi saya merasakan di dalam kalbu saya, bahwa itu adalah saat yang baik. Soekarno (dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Kutipan tadi menjelaskan sedikit alasan mengapa Soekarno memilih Angka 17 sebagai pintu gerbang kemerdekaan bangsa Indonesia.

Angka 17 ini juga dikaitkan dengan keyakinan beragamanya,  peristiwa ini bertepatan dengan bulan Ramadhan dimana setiap umat islam sedang menebalkan imanya dengan puasa.

Tapi sebagai golongan tua 17 Agustus juga menjadi sikap politik tidak tergesa-gesa, bentuk kebijaksanaan yang ditunjukan oleh golongan tua yang akhirnya meluluhkan golongan muda. Dengan jaminan bahwa proklamasi akan dilaksanakan paling lambat tanggal 17 Agustus pukul 12.00 siang di Jakarta, para pemuda akhirnya luluh dan mengizinkan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.

Sama halnya dengan perayaan umur 17 bagi seorang individu yang menandai masuknya gerbang kedewasaan, tanggal 17 Agustus 1945 menjadi saksi berdirinya bangsa Indonesia di atas kakinya sendiri (merekosialisasikan diri). Indonesia tidak lagi menjadi "anak asuh" kekaisaran Jepang maupun jajahan Belanda, melainkan sebuah bangsa dewasa yang siap menanggung risiko atas takdirnya sendiri di panggung dunia.

Daftar Referensi Utama

  1. Adams, Cindy. (1965). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno.
  2. Hatta, Mohammad. (1970). Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Jakarta: Tintamas.
  3. Suganda, Her. (2009). Rengasdengklok: Revolusi 17 Agustus 1945. Jakarta: Kompas.
  4. Isnaeni, Hendri F. (2015). 17-8-45: Fakta, Drama, Misteri. Jakarta: Change Publication.
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk "17 Bukan Sekedar Angka Bagi Bung Karno"