Raffles: Intelektual Visioner atau Plagiator Bertangan Besi?


Sumber Gambar : https://en.wikipedia.org/wiki/Stamford_Raffles

Narasi sejarah merupakan arus utama yang kemudian sering kali memahat nama sesorang, salah satunya adalah Thomas Stamford Raffles sebagai sosok "pencerah" di tengah kegelapan kolonialisme Belanda di Nusantara hal ini bukan tanpa sebab sosoknya dididentikan dengan sosok Visioner, Pendiri Singapura, dan Pencinta Ilmu pengetahuan.  Namun, melalui kacamata Peter Carey dan Farish A. Noor dalam buku Ras, Kuasa dan Kekerasan Kolonial, kita menemukan diskursus yang jauh lebih kompleks dan kelam di balik reputasi sang "Pendiri Singapura" tersebut.

Dari Juru Tulis Menjadi "Penguasa" Jawa

Karier Raffles adalah manifestasi dari ambisi kelas menengah Inggris yang agresif ia adalah definisi nyata dari social climber yang sukses pada zamannya tidak terlahir dari kalangan bangsawan Inggris namun memiliki ambisi kuat walau karirnya dimulai dari seorang juru tulis (clerk) di East India Company (EIC) pada usia belia, yang kemudian profesi ini mengantarkannya menjadi Letnan Gubernur Hindia Timur (1811-1816). Raffles memanfaatkan kecakapan linguistik dan pemahaman budaya lokal bukan semata-mata untuk mencapai apresiasi estetis, melainkan sebagai instrumen kekuasaan, dari sekadar perdagangan rempah menuju kontrol teritorial dan administratif yang totalistik.

Sering dipuja karena karya monumentalnya, The History of Java, Raffles sebenarnya melakukan apa yang bisa disebut sebagai pencurian intelektual. Carey dan Noor menyoroti bagaimana Raffles secara sistematis menginkorporasi riset, data, dan naskah milik para pendahulunya—seperti John Leyden dan Colin Mackenzie—serta pejabat Belanda tanpa atribusi yang memadai. Intelektualismenya adalah sebuah proyek "pencitraan diri" (self-fashioning) yang dirancang untuk meyakinkan publik di London bahwa ia adalah otoritas tunggal atas Jawa, sekaligus menjustifikasi eksploitasi Inggris atas wilayah tersebut.

Raffles sering kali mengkritik sistem kolonial Belanda yang dianggapnya feodal dan barbar. Namun, retorika liberalnya tentang "kebebasan" dan "sewa tanah" (land rent) runtuh ketika berhadapan dengan realitas kekuasaan. Geger Sepehi (1812) menjadi bukti tak terbantahkan dari watak tangan besinya. Penyerbuan Keraton Yogyakarta bukan sekadar aksi militer, melainkan upaya sistematis untuk menghancurkan kedaulatan lokal dan menjarah kekayaan budaya (manuskrip dan pusaka) demi memperkuat supremasi Inggris. Di sini, Raffles menunjukkan wajah aslinya: seorang penguasa yang tidak segan menggunakan kekerasan ekstrem demi menegakkan hegemoni.

Pada akhirnya, sosok Raffles bukanlah sekadar pahlawan atau penjahat dalam sejarah hitam-putih. Ia adalah representasi dari imperialisme modern yang menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kedok bagi kekerasan militer dan pencurian intelektual. Membedah Raffles berarti membongkar mitos-mitos kolonial yang hingga kini mungkin masih tersisa dalam memori kolektif kita.


Buku Penunjang:

Carey Peter dan A.Noor Farish. (2025).Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda 1808-1830.Bogor:PT Grafika Mardi Yuana
Wawan Hermawan
Wawan Hermawan Manusia dari planet bumi, NgeBlog karena ingin.

Posting Komentar untuk " Raffles: Intelektual Visioner atau Plagiator Bertangan Besi?"