LKS Media Fisik Murah Untuk Sekolah Di Daerah
OPINI : LKS Media Fisik Murah Untuk Sekolah Di Daerah
Oleh : Wawan Hermawan
September 2025 saya mendapat kesempatan berdiskusi dengan banyak guru dari sekolah lain dalam satu wilayah kerja, di sela-sela kegiatan kami habiskan untuk membahas materi kelas maupun pengalaman masing-masing, entah bagaimana kemudian percakapan itu sampai pada ungkapan bahwa LKS merupakan media fisik yang murah dan terjangkau terutama untuk sekolah di daerah yang jauh dari toko buku. Awalnya saya tidak sepakat karena memang LKS ini selain kualitas yang jelek bahasan didalamnya juga tidak meluas, sebenarnya bukan hanya isi LKS yang bermasalah terkadang peredaran LKS juga yang sering terkesan memaksa untuk dibeli menjadi bumerang bagi para guru, walaupun saya yakin tidak ada guru yagn menjadi kaya karena menjual LKS ini hanya sebuah keyakinan saya saja.
Selisih paham itu hal biasa, namun pembahasan solusi harus menjadi diskusi berkepanjangan agar tak banyak yang dirugikan. Sama halnya dengan pembahasan LKS sebenarnya pemerintah di sekolah Negeri sudah menyiapkan bahan bacaan berupa buku Paket pelajaran yang lengkap karena setiap anggaran turun ada jatah untuk membeli buku Baru. Pertanyaan lain muncul bukanya sekarang sudah serba digital dan informasi sudah mudah diperoleh? saya setuju dengan ungkapan ini tapi apakah mereka benar menggunakan informasi bermanfaat atau hanya sekedar menikmati saja tanpa penyaringan lebih jauh?.
Kegagalan Romantisasi Digital
Pengalaman pribadi dalam kegiatan belajar mengajar saya pernah optimis jika anak-anak dimudahkan dengan adanya buku digital sebagai salah satu sumber belajar di kelas, dihari pertama pembelajaran, siswa siswa saya minta untuk mendownload buku dalam bentuk pdf dan disimpan dalam gawainya untuk sesekali dapat mereka baca dan gunakan dalam kelas, dipertemuan ke 2 buku digital tersebut sudah tidak ada di gawai mereka dengan ragam alasan. Sebenarnya sumber belajar terutama di dunia serba internet seperti saat ini sudah mudah ditemui akses internet sudah lebih mudah, tapi sekali lagi penggunaan gawai lebih sering sebagai hiburan.
Kita sering terjebak dalam angan-angan bahwa internet adalah solusi segala masalah literasi. Padahal, internet tanpa panduan hanyalah rimba informasi yang menyesatkan bagi mereka yang belum memiliki "daya baca" yang kuat.
Saya teringat pernyataan Pak Anies Baswedan yang sempat viral. Masalah besar bangsa ini bukan sekadar minat baca yang rendah, melainkan daya baca yang lemah.
"Anak-anak kita mungkin sanggup menatap layar ponsel selama 5 jam sehari, tapi belum tentu mampu bertahan membaca 5 halaman teks yang menuntut pemikiran kritis."
Di sinilah LKS masuk sebagai jembatan yang pragmatis. Mengapa LKS yang "kurang berkualitas" itu tetap dicari di tengah gempuran internet? Karena ia menyediakan struktur. Ia memaksa siswa untuk menulis, mengerjakan soal, dan berinteraksi langsung dengan teks secara fisik—hal yang sering kali terlewatkan dalam guliran layar (scrolling) yang cepat dan dangkal.
LKS mungkin bukan solusi ideal. Ia adalah alat bantu di tengah keterbatasan. Namun, mengutuk keberadaan LKS tanpa memberikan alternatif yang lebih membumi bagi siswa di daerah adalah sebuah kenaifan.
Tugas kita sebagai pendidik bukan untuk membuang LKS, melainkan memastikan "jembatan" ini tidak rapuh. Kita harus memastikan bahwa meskipun dicetak di atas kertas murah, konten yang kita ajarkan mampu mengasah daya kritis siswa.
LKS bukan bumerang jika guru tahu cara melemparnya dengan tepat. Ia adalah langkah kecil untuk memastikan literasi tetap hidup, meski harus dimulai dari selembar kertas buram.

Posting Komentar untuk "LKS Media Fisik Murah Untuk Sekolah Di Daerah"