Sabtu, 23 Januari 2021

PEREMPUAN DAN LITERASI

 PEREMPUAN DAN LITERASI

Peranan Raden Ajoe Laksminingrat Dalam Pendidikan Kaum Perempuan Di Kabupaten Garut Pada Masa Kolonial Belanda

Oleh : Nur Tri Kartini

Raden Ayu Lasminingrat (Foto: kemdikbud.go.id)

Membicarakan Pendidikan di Indonesia yang kala itu disebut Hindia Belanda, maka tidak lepas dari Politik Etis. Politik Etis secara resmi ditetapkan pada bulan September 1901, ketika Wilhelmina menyampaikan pidato tahunan yang menyatakan bahwa belanda harus membalas budi pada hindia. Seperti yang kita ketahui Bersama bahwa politik etis terdiri dari tiga hal yaitu Pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Politik etis memberikan dapak yang cukup besar dalam bidang Pendidikan diantaranya lahirnya sekolah-sekolah di hindia belanda baik yang didirikan oleh pemerintah belanda maupun yang didirikan oleh masyarakat. Selain itu lahir juga lapisan masyarakat baru yaitu kaum terpelajar yang akan memberikan banyak kontribusi bagi perjuangan bangsa Indonesia. 

Pendidikan di hindia belanda sebetulnya sudah ada sejak tahun 1850an, hanya saja jumlahnya sangat terbatas dan hanya untuk kalangan tertentu seperti sekolah dokter jawa yang sudah ada sejak 1851 dan sekolah guru yang sudah dirikan sejak 1875 atau sekolah pamong praja yang bertujuan menyediakan tenaga kerja rendahan untuk mengurus administrasi. Sekolah-sekolah tersebut tentunya bertujuan untuk kesejahteraan belanda di wilayah jajahan. Politik etis sedikit memberikan pengaruh pada tujuan adanya Pendidikan, sehingga Pendidikan setelah tahun 1901 bertujuan untuk “membalas budi”, salah satunya dengan menambah jumlah Lembaga Pendidikan. 

Pendidikan yang digaungkan melalui politik etis juga memeberikan dapak bagi kaum perempuan. Sehingga lahirlah perempuan-perempuan terdidik pada masanya, seperti Raden Ajeng Kartini, Raden Dewi Sartika dan Raden Ajoe Laksminingrat. Dua tokoh yang penulis sebutkan sudah sering terdengar namanya dan sudah diakui sebagai pahlawan nasional. Tetapi satu orang yaitu Raden Ajoe Laksminingrat mungkin jarang terdengar apalagi bagi orang yang tidak tinggal di wilayah jawa barat. Bahkan Ketika penulis menanyakan kepada beebrapa peserta didik disalah satu sekolah di kabupaten Garut Sebagian besar belum mengetahui ada tokoh yang bernama Raden Ajoe Laksminingrat. Ketidaktahuan ini merupakan hal wajar karena nama Raden Ajoe Laksminingrat belum terdapat dalam buku-buku pelajaran yang menjadi bacaan wajib mereka. Padahal betapa akan sangat menariknya sebuah pelajaran sejarah jika digali dari sejarah lokalnya sendiri. Inilah yang menjadi salah satu alasan penulis tertarik untuk mencoba sedikit menulis tentang kontribusi Raden Ajoe Lasminingrat bagi Pendidikan khususnya Pendidikan perempuan di wilayah Garut.

Raden Ajoe Lasminingrat terlahir pada tahun 1843 sebagai putri dari seorang Kepala Penghulu Kabupaten Limbangan, yang juga seorang sastrawan Sunda yang terkenal pada zamannya, yaitu Raden Hadji Moehamad Moesa dan Ibunya, Raden Ajoe Rija. Kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah dimiliki oleh ayah dari Raden Ajoe Laksminingrat, ayah beliau memberikan ijin putrinya untuk belajar. Bukan hanya belajar yang terkait dengan keahlian sebagai seorang wanita seperti memasak, menyulam, menjahit tetapi juga meliputi pengetahuan dari eropa dianataranya kemampuan terkait berbahasa belanda dengan tetap mempelajari Bahasa ibu yaitu Bahasa sunda. Sehingga Raden Ajoe Laksminingrat tumbuh menajadi perumpua yang fasih berbahsa Belanda. 

Sepak terjang RA Laksminingrat memang sangat dipengaruhi oleh sosok ayahnya yang merupakan sastrawan sunda terkemuka di wilayah Limbangan. Buah Jatuh tidak jauh dari pohonya mungkin itulah pribahasa yang cocok bagi cerita kehidupan RA laksminingrat. Beliau mewarisi kemampuan menjadi sastrawan dari ayahnya, kelak Raden Ajoe Lasminingrat dikenal dengan penerjemah karya-karya belanda kedalam Bahasa sunda. 

Layaknya RA Kartini yang memiliki Rosa Abendanon, R.A. Laksminingrat juga mendapat dukungan dari Karel Frederick Holle yang merupakan seorang administrator perkebunan dan juga sahabat dari ayah RA Laksminingrat. K.F. Holle sangat memuji R. A. Lasminingrat yang begitu tepat menyadur dan menerjemahkan cerita-cerita karangan Grimm ke dalam bahasa Sunda. Selain itu R. A Lasminingrat juga terlibat dalam “proyek” penyusunan buku-buku pelajaran bahasa Sunda yang dibiayai oleh pemerintah Belanda. Buku-buku yang diterjemahkan dan diterbitkan menjadi buku bacaan wajib HIS dan Schakelschool hingga akhir penjajahan Belanda. Hal serupa juga ditulis oleh Dicky Muhammad M dalam tulisannya Peran Karel Frederick Holle dalam perkembangan pertanian dan Pendidikan di Garut, dalam tulisan ini juga dijelaskan bahwa K.F Holle memberika dukungan dan dorongan bagi Raden Ajoe Laksminingrat untuk mendirikan sekolah perempuan di kewedanaan Limbangan yaitu Sakola Kaoetamaan Istri. 

Keberhasilan Raden Ajoe Laksminingrat mendirikan Sakola Kaoetamaan Istri pada tahun 1907 tidak terlepas dari hubungan timbal balik dengan Raden Dewi Sartika yang sudah lebih dulu mendirikan Sakola Istri pada tahun 1904. Sehingga pada tahun-tahun tersebut Kabupaten bandung dan Kabupaten Limbangan sudah memiliki fasilitas Pendidikan bagi kaum perempuan pribumi. Sebuah Lembaga yang berupaya membangun kepercayaan diri perempuan dengan memiliki banyak keahlian dan tentunya keahlian membaca dan menulis yang saat itu masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar perempuan pribumi. Namun perjuang R.A Lakminingrat juga terpengaruh oleh situasi politik saat itu yang menjadikan Kabupaten limbangan harus berubah menjadi kabupaten Garut karena dampak tersebut R.A. Laksminingrat harus pindah dari pendopo kabupaten Garut ke sebuah rumah di Regentsweg yang sekarang dikenal sebagai jalan Siliwangi. Sakola Kaoetamaan Istri terus berlanjut sampai dengan masa penjajahan jepang yang kemudian diubah Namanya menjadi Sekolah Rakyat. Pada tahun 1950 berubah nama menajdi SD Negeri Ranggalawe I dan IV dan saat ini Namanya sudah berubah menjadi SD Negeri Regol VII dan X. 

Bagi saya yang berprofesi sebagai seorang guru sejarah di kabupaten Garut sosok R.A. Laksminingrat sangatlah mengispirasi. Pada masa itu beliau sudah mampu memperjuangkan Pendidikan bagi kaumnya, meneerjemahkan beberapa buku berbahasa asing yang bahkan saat ini keahlian tersebut belum tentu dimiliki oleh seorang pendidik. Selain itu Laksminingrat juga dapat dijadikan tokoh yang dikaji dalam pembelajaran sejarah, tokoh lokal yang kiprahnya sudah diakui oleh bangsa lain. Dengan harapan peserta didik dapat memperoleh nilai-nilai positif dan terinspirasi semangat Laksminingrat dalam memperjuangkan hak khususnya hak untuk mendapatkan Pendidikan yang layak. Sejauh yang penulis ketahui nama R.A. Laksminingrat sejak Tahun 2016 dijadikan nama sebuah Gedung Serbaguna di wilayah kabupaten Garut yang terletak di jalan Jendral Ahmad Yani. 

Baca Juga

Previous Post
Next Post

sejarah31.com adalah web yang dibuat untuk berbagi informasi seputar dunia pendidikan dan sejarah.

0 comments: